Saya lebih Nasionalis karena mendaki Gunung


Dahulu saya adalah orang begitu apatis oleh lingkungan sekitar, apatis juga dengan sikap pemerintahan atau kondisi pemerintahan Negara Indonesia. Membaca buku pun sangat sungkan. Yang dibenak saya, ya hidup itu hanya singgah sementara, memang betul kalo pemikiran yang demikian. Akan tetapi itu hidup ini akan menjadi sia-sia jika tidak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Singkat cerita saya lulus SMA, dan diterima di kampus swasta di Jogja. Saya kenal mendaki ketika saya saya kuliah semester dua, dan itu diajak oleh temen saya. Saya dulu adalah orang yang kuliah-kuliah saja, ikut organisasi HMJ pun biar tidak dikatakan mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang.

Ketika itu saya diajak oleh temen satu kos saya untuk mencicipi mendaki gunung langeran atau kerap disebut dengan Gunung Api Purba. Kondisi malam hari, tapi karena bawaan saya tidak punya rasa takut, maka ku beranikan diri untuk mendaki walaupun di malam hari. Padahal saya belum punya pengalaman mendaki apapun.

Berangkatlah kami berenam (kalau tidak salah), jarak tempuh gunung api purba memang tidak jauh. Kurang lebih hanya 1 jam, itu pun sudah ditambah dengan istirahat. Rasa capek pun tidak ada, sama sekali tidak capek. Ya karena saya juga hobi olahraga, mungkin tidak perlu persiapan fisik matang juga sudah cukup untuk pemanasan di gunung api purba.

Pendek kata, setelah dua minggu saya turun dari gunung api purba, saya makin penasaran dengan mendaki gunung yang lebih tinggi lainnya. Tapi apa boleh buat, saya belum punya apa-apa untuk perlengkapan pendakian.


Ketika itu saya kami berempat sedang dudukan di angkringan, tidak sengaja salah satu teman saya mengusulkan untuk pergi ke gunung Bromo. Tak banyak alasan saya langsung berkata "Yuk, jangan sekedar wacana". akhirnya teman saya yang lainnya juga sepakat dengan usulan teman saya.

Seminggu kemudian kami berangkat dari Jogja, kami bertujuh. Dan salah satu dari kami ada anggota Mapala UMY. Dari Jogja kami berangkat sore hari, perjalanan yang sangat jauh ketika itu. Kami hanya mengandalkan GPS, karena tidak ada yang hafal jalan menuju Bromo. Sampai Bromo kami pagi hari, ya berarti ada 12 jam lebih kami di perjalanan.

Ketika sampai Bromo kami langsung cari penginanpan, kami cari harga yang relatif murah tapi ga murahan juga, hehe. Istirahat sampai sore hari, dan jalan-jalan di sekitar penginanapan. Esok hari telah tiba, dan kami semua bersiap-siap untuk menuju ke Gunung Bromo. Setelah sampai Gunung Bromo, kami berfoto-foto, dan diantara teman saya tadi yang anak Mapala membawa Bendera Indonesia. Melihat teman saya foto dengan Bendera, hati ini langsung tersentuh. Saya pun meminjam Bendera teman saya. 



Setelah foto-foto kami bersiap-siap untuk chek out dari penginapan, dan bergegas untuk pulang ke Jogja. Saat perjalanan pulang ada insiden tidak menyenengkan, salah satu dari teman kami menabrak trotoar, ya wajar di kondisi capek dan ngantuk, padahal kejadian itu sudah masuk Jogja dan posisi sekitar jam enam pagi.

Pendek kata, satu minggu kenuadian saya meminta foto-foto kami saat di Bromo. Dan saya rajin mengaplud foto saya di facebook saya pribadi. Saya cari inspirasi caption di google, inspirasi caption saya bukan tentang cinta ya, karena saya mencoba untuk melengkapi foto saya yang sedang memegang bendera merah putih.

Semakin sering saya mengaplud foto saya di Bromo dengan caption-caption nasionalis, entah kenapa dari situ saya makin penasaran dengan Indonesia. Ketika itu membaca adalah salah informasi untuk saya untuk mengetahui Indonesia lebih jauh. Buku dan artikel sejarah lah yang menjadi bacaan favorit saya ketika itu. Sembari saya sering membaca buku sejarah, saya pun mendownload lagu-lagu NASIONALIS, seperti Tanah Air, Indonesia Pusaka, Indonesia Raya, dll.

Entah kenapa, mindsite saya makin hari makin mencintai Negara ini. Walaupun saya sadar, kalau saya buka media elektronik ada pejabat Negara yang tersandung korupsi, atau kriminal lainnya, tetapi saya tetap cinta, kurang lebih dipikiran saya saat itu "Baik Buruknya Indonesia Saya Tetap Cinta".

Dua bulan kemudian, ketika saya di kampung halaman. Salah satu teman kos saya mengajak saya untuk mendaki Gunung Lawu. Tak banyak berpikir, saya lagi-lagi "Yuk, jangan sekedar wacana". Hari kami tentukan, akhirnya dua hari kemudia saya bergegas untuk ke Jogja. Disamping libur kuliah saya mau rampung, saya juga sudah janji untuk mendaki gunung Lawu.

"Saya singkat-singkat ya ceritanya, biar gak terlalu panjang, hehehe"

Berangkatlah kami di Gunung Lawu, ketika kami sudah mulai mendaki gunung Lawu dan kami sampai puncak. Saya langsung keluarin Bendera Merah Putih saya yang saya bawa dari rumah saya. Begitu nikmatnya pada saat itu, mendaki gunung pertama yang cukup tinggi dan membawa bendera merah putih yang bisa saya kibarin dipuncak Hargo Dumilah.

Ketika itu saya sudah mencicil untuk membeli perlengkapan pendakian. Akhirnya ketika mendaki gunung lawu tidak malu-maluin, hehehe. Maksutnya keren sedikit gitu, gak pake tas kuliah lagi buat mendakinya.

Dari situlah setiap saya medaki Gunung tak pernah lupa dengan Bendera Merah Putih. entah itu gunung yang pendek atau gunung tinggi, saya selalu bawa untuk dokumentasi saya.

Makin hari saya makin sering membaca sebuah buku tentang pemerintahan, politik, sejarah, hukum, dll. Akhirnya saya makin peduli dengan Negara ini. Saya yang dulunya apatis dan skeptis dengan Negara ini, sekarang saya sangat peduli. ketika itu saya mulai rajin menulis untuk katakan yang benar atau katakan salah untuk bentuk dari Pemerintahan pada saat itu. 

Tidak cukup disitu, saya makin peduli dengan lingkungan sekitar. Saya makin aktif di Organisasi, saya sering mengadakan kegiatan sosial dari dalam organisasi atau dari luar organisasi. Saya pun pernah menajdi relawan di sebuah Panti Asuhan di Jogja untuk menajdi seoarang pengajar. Dan saya pernah bergabung dengan Merapi Rescue untuk makin aktif di kegiaran relawan.

Sekarang saya sedang mengambil pascasarjana di kampus Jogja, kebiasaan saat S1 dulu juga masih melekat sampai sekarang. Semoga kalian yang sering mendaki juga makin cinta dengan Negara ini, dan semoga kalian yang belum pernah mendaki maka cobalan untuk mendaki. Karena kegiatan mendaki Gunung adalah sebuah kegiatan yang tidak ada ruginya sama sekali, kita makin punya rasa manusiawi, dan kita makin peduli dengan kondisi lingkungan sekitar kita.

Salam Lestari.





No comments:

Powered by Blogger.